Portelea Kembali Lewat “Peace Has Gone”

‘Chaos!’ dari urusan politik, perut, agama, hingga mayat dipolemikan hingga sedemikian brutal, menjadi latar lagu ini dibuat.

Empati memudar. Memanusiakan manusia serupa tanda bintang undian berhadiah: syarat dan ketentuan berlaku. Orang-orang, bahkan barangkali kita sendiri sibuk teriak “hak” dengan melanggar hak orang lain. Di sisi lain berita baik kurang asyik, berita buruk banyak diburu, diproduksi, lalu disebarkan. Begitulah yang ingin disampaikan PORTELEA lewat single “Peace Has Gone” yang mulai berselancar di sejumlah layanan dengar digital.

“Di situasi sekarang kita telah kehilangan waktu kontemplasi. Ruang untuk merenung diruntuhkan padahal kontemplasi kita bisa mengingatkan kita tentang banyak hal. Dari kejujuran dengan diri sendiri, melihat apa yang sudah kita perbuat untuk kita sendiri dan sekitar kita, berdamai dengan diri kita sendiri,” tutur Catur Kurniawan, music programer Portelea.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Portelea.music (@portelea.music) on

Setelah meluncurkan “Kundera” yang berlirik bahasa Indonesia, dalam “Peace Has Gone” Portelea kembali memaparkan kengerian realita kekinian dalam bahasa Inggris seperti tiga lagu dalam mini album mereka “Silent Screaming”, “Darx Box”, dan “Traces of Love”. Ada gelisah yang tak kunjung tuntas dalam realita kekinian.

Dari urusan politik, perut, agama, hingga mayat dipolemikan hingga sedemikian brutal. Intoleran telanjang bulat, mayat ditolak dimakamkan, anak membunuh ibunya, bapak memperkosa putrinya, rakyat mengutuk pemimpinnya, pemimpin membodohi rakyatnya.

“Chaos. Itu yang muncul dalam kepala saya ketika mengeksekusi aransemen Yoyok (sapaan akrab Catur),” sambung Rigisa vokalis Portelea.

Proyeksi chaos datang di tengah lagu. Mereka sengaja memasukan suara siaran-siaran radio dari perang dunia 1 sampai ke perang teluk, penanda sekaligus pengingat bahwa pertumpahan darah berawal dari keserakahan dan ketamakan satu golongan untuk berkuasa.

“Untuk lingkup kecilnya terutama di negara indonesia tercinta ini di saat intoleran satu golongan atau perorangan menyebar ketakutan ke kelompok lain. Kita sudah kehilangan ruang kontemplasi, dari sana ide lagu ini sekaligus mengajak merenung,” pesan Catur.

PORTELEA mulai masuk dapur rekaman di pertengahan bulan Maret 2020. Proses rekam, mixing & mastering dilakukan di Watchtower Studio yang dieksekusi langsung oleh Sang Empu Bable sagala.

Mereka puas dengan ramuan suara Bable. Sementara itu NEDS Management, music management yang dipelopori anak-anak muda kreatif dari Pekalongan turut terlibat dalam proses single. Dari sana PORTELEA diperkenalkan dengan Senimales yang ahirnya ikut menyumbangkan karya Artwork untuk Single ini.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Portelea.music (@portelea.music) on